AWAS JEBAKAN LIBURAN SANTRI!

Kejadian ini hampir tiap kali liburan selalu terulang. Apa itu? keluhan demi keluhan para orang tua tentang anaknya selama liburan…
“anak saya kok ibadahnya susah selama liburan dirumah ya? dibangunkan susahnya bukan main…”
“kok tidak seperti yang saya bayangkan ketika di rumah ya…?”
“lihat TV terus sampai lupa waktu…?kapan muroja’ah Qur’anya…”
“anak saya kok tidak mau kembali ke pondok ya, setelah liburan…?”
Tapi mungkin masih banyak juga anak-anak santri yang mampu membawa tradisi baik di pondok, istiqomah dijalankan ketika dirumah dan begitu semangatnya ketika kembali ke pondok.

Terlepas dari itu, sebenarnya liburan yang seharusnya mampu me-refresh santri untuk kembali semangat mondok lagi, belajar lebih rajin, mengaji lebih tekun, ibadah tanpa kenal lelah dan hal positif lainya justru hasilnya sebaliknya…

Biasanya satu pekan pasca liburan santri, saya sering mendapatkan banyak keluhan dari para orang tua yang kebetulan putra-putri mereka sedang mondok di pesantren. Mereka mengeluh bahwa anaknya tidak kerasan di Pesantren. Bahkan beberapa dari anak tersebut memaksakan diri untuk pulang ke rumah dan tidak mau lagi belajar di pesantren. Dari beberapa fenomena tersebut ada beberapa kesamaan di antara mereka. Pertama, fenomena ini banyak terjadi pada anak-anak yang baru masuk pesantren dan liburan yang lalu adalah liburan pertamanya. Tetapi terkadang juga santri lama masih mengalaminya. Kedua, fenomena tersebut sering terjadi setelah liburan, terutama pada liburan pendek mereka pada semester pertama.

Menghadapi kenyataan bahwa anak kita mulai tidak kerasan di pesantren tentu cukup membuat kita galau, apalagi sampai ada keinginan mereka untuk keluar dari Pesantren. Namun tidak ada salahnya sebagai orang tua tentu kita perlu untuk mengevaluasi apa yang terjadi pada liburan mereka. Sehingga kita dapat belajar untuk adiknya atau saudara-saudara kita lain yang juga akan memasukkan anaknya di pesantren.

Pada saat liburan ada perbedaan yang sangat besar antara aktifitas mereka di pesantren di rumah. Di pesantren mereka dituntut untuk shalat berjamaah, tilawah, melakukan segala hal secara mandiri dan banyak aturan pesantren. Sementara selama liburan di rumah tidak ada lagi kewajiban untuk shalat berjamaah, tilawah serta berbagai macam aturan. Semuanya dikerjakan oleh orang tua dan pembantu. Dengan fakta ini orang tua justru lebih sering mendukung dengan alasan biarlah anaknya istirahat. Apa yang terjadi saat waktu liburan sudah usai, anak membayangkan betapa nikmatnya di rumah dan betapa beratnya di pesantren. Kondisi ini akan membuat anak merasa berat untuk kembali ke pesantren.

Saat anak liburan di rumah, orang tua cenderung untuk menuruti segala permintaan anak. seperti handphone, baju-baju kesukaan anak, alat permainan, kendaraan dan lain-lain. Beberapa barang yang telah dibeli selama liburan oleh anak dan tidak diperbolehkan untuk dibawa ke pesantren membuat anak selalu teringat barangnya saat mereka kembali ke pesantren. Mereka merasakan betapa beratnya harus berpisah dengan barang kesukaan mereka.

Selama liburan anak, orang tua berusaha memasakkan bagi anaknya sesuatu yang disenangi anaknya secara berlebihan. Hal ini sebenarnya sangatlah wajar bagi seorang ibu yang mencintai anaknya. Namun sesuatu yang berlebihan sangatlah tidak baik, bahkan dapat membangun pemahaman betapa enaknya masakan di rumah dibandingkan di pesantren.

Berawal dari beberapa fenomena di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua saat putra/putrinya libur dari pesantren, di antaranya adalah :

  1. Membuat peraturan rumah dan aktifitas anak selama liburan di rumah mirip dengan peraturan dan aktifitas anak di pesantren. Seperti tetap mengistiqomahkan shalat jamaah, tilawah, membersihkan kamar sendiri dan lain. Sehingga saat mereka kembali di pesantren tidak merasa kaget dan heran.
  2. Memberikan apa yang diminta oleh sesuai dengan kebutuhannya. Tidak baik bagi para orang tua dengan alasan bahwa putra mereka yang dipesantren jarang merasakan kenikmatan sebagaimana saudara mereka di rumah, kemudian memberikan apapun yang diminta oleh anak. Seperti gadget terbaru, pakaian terbaru yang tidak boleh dipakai di pesantren, pergi ke tempat yang disenangi oleh anak, dan lain-lain. Justru semua pemberian yang tidak dapat dimanfaatkan di pesantren di atas akan membuat anak selalu ingat barang atau pengalamannya selama mereka di pesatren.
  3. Mengajak dan mengkondisikan anak untuk tetap berada dalam suasana ruhiyah dan spiritual yang terjaga. Seperti tetap muroja’ah hafalan, puasa sunnah, mengajak menghadiri majelis ta’lim (pengajian), dan sebagainya.
  4. Secara naluriah mayoritas anak cenderung menunda-nunda waktu kembali ke pesantren. Ini seperti anak kecil yang terdorong untuk menyusu ke ibunya walaupun sudah saatnya untuk disapih. Sikap tegas dan bijak orang tua untuk tetap mengantarkan putranya kembali ke pesantren tepat waktu akan membuat anak anak merasa ringan ketika masuk pesantren. Sebaliknya menunda-nunda untuk mengantarkan anak justru menjadi beban berat anak masuk pesantren, karena masa adaptasi anak agak terlambat…

Semoga liburan 2 pekan yang dijalani oleh anak-anak kita, mampu me-refresh dan membangun semangat mereka untuk tetap istiqomah dengan ibadahnya, tekun belajarnya, kuat muroja’ah hafalanya, dan kembali ke pondok dengan semangat yang berlipat ganda. Wallahu a’lam…

[*Rully Cahyo Nufanto]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × three =

X
%d blogger menyukai ini: