AL-QURA’N: HADIAH TERBAIKKU UNTUK AYAH-IBU

📋Catatan kecil seorang santri yang berhasil mentasmi’kan 30 Juz hafalannya di samping Ayahnya yang terbaring kritis (sakit)

[Santri: Wahyu Aminul Mukminin]

📖Ujian Tahfizh Pertama

Hari itu menjadi hari yang sangat bersejarah dalam perjalanan hidupku. Saat di mana Allah SWT hantarkan aku menjadi bagian dari mereka yang dipilih sebagai Penjaga Wahyu. Kurang lebih 2 tahun lamanya (di bangku SMP) aku berhasil menyempurnakan hafalan Al-Quran ku, hingga akhirnya dengan izin dan pertolongan Allah, akupun berhasil i’lan dan menyetorkan hafalan ku dengan sekali duduk di hadapan Guru, dan Masyayikh, beserta teman-teman ku.

📖Ujian Tahfizh Kedua, bersama Orangtua Ku

Ada hal yang berbeda yang aku rasakan saat itu, saat di mana orangtua ku juga ikut hadir menyimak dan memberikan restu dukungan kepadaku. Mungkin hal ini biasa terjadi dan dilakukan di Pesantren Tahfizh. Namun sesuatu yang berbeda yang membuat aku terharu dan tak kuasa menahan linang air mata, di saat Ayahku hadir dengan kondisi yang sudah tidak biasa lagi. Ayah di bawa dari kampung ke Pesantren ini dalam kondisi kritis, dengan sakit yang dideritanya, hanya terbaring, tak kuasa berkata-kata, padahal aku sangat memahami dalam siratan wajahnya, ada banyak mutiara pesan yang hendak disampaikan. Ada bahagia yang terpancar yang bisa aku tangkap darinya, ada senyum rekah yang terlihat dari bibirnya.

Duhai Allah, Tuhanku…!
Hari itu, malam itu.. Aku menangkap suatu pesan mulia dari hadirny beliau ke Pesantren ini, ke Masjid ini,.. Pesan bahwa Ibumu, terutama Ayahmu (yang sedang terbaring sakit) akan menjadi saksi kemuliaan ini, keagungan ini, yaitu kemuliaan Al-Quran, aku harus bisa menjaga amanah Al-Quran ini, aku harus mampu melewati hari-hari ku dengan tetap berpegang kepada kitab ini. Itulah pesan yang aku tangkap dari hadirnya Ayah dan Ibuku. Ayah yang saat itu sudah tidak berdaya karena sakit yang dideritanya. Ya Allah ! Muliakanlah mereka berdua..!

📖Ajal Menjemput Ayahku, saat Aku menuntaskan 30 Juz Hafalanku

Setiap jiwa akan merasakan kematian

Potangan firman suci ini, menyadarkan aku, bahwa ajal atau kematian suatu yang pasti datangnya, dan semua akan melaluinya. Termasuk Ayahku sendiri.

Begitu cepat, sangat cepat, beliau Ayahku seakan baru saja membersamai ku, menemani suka-duka aku selama aku di Pesantren ini. Mereka Ayah dan Ibu setiap bulannya mengunjungiku, ingin memastikan kondisi kesehatan buah hatinya. Telfon setiap pekannya, tak pernah mereka lupa. Gelak tawa, canda, dibalut dalam do’a dan harapan agar buah hatinya berhasil dan menjadi anak yang sukses, sukses di dunia dan akhirat.

Hari itu saat Ayahku menghembuskan nafas terakhirnya, aku baru tersadar bahwa Ayahku telah berpamitan kepadaku dan kepada Ibuku, tapi aku pun belum begitu yakin, karena Ayahku kemarin-kemarin masih sehat dan baik-baik saja. Namun begitulah suratan ajal. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un . Ayahku pun pergi menemui Kekasih-Nya. Kekasih yang selama ini sangat baik kepadaku dan keluargaku.
إنه هو البر الرحيم

Ayahku !
Semoga engkau tenang di sana
Allah luaskan tempatmu
Allah lapangkan barzakhmu
Allah selimuti engkau dengan selimut rahmat-Nya

Aku di sini akan senantiasa mendo’akan Ayah di sana
Do’a terbaik dan hadiah terbaik aku, adalah BACAAN AL-QURAN aku, yang akan terus aku bacakan untukmu Ayah..
Terimakasih
Terimakasih Ayah, Ibu,
Semoga Ayah bahagia telah melahirkan aku ke dunia ini.

رب اغفر لي ولوالدي وارحمهما كما ربيني صغيرا
اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعفوعنه، وأكرم نزله ووسع مدخله.. آمين

(santri: Wahyu Aminul Mukminin)

Malang, 08 Juli 2020
Dari Ar-Rohmah Tahfizh Malangnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 − 1 =

X
%d blogger menyukai ini: