IBU, MAAF, TERNYATA RAHIMMU MENGHASILKAN SAMPAH

Aku limbung. Pikiranku kacau.

Nasib terbahak keras sekali. Puas menertawakan kebodohanku. Segores tinta merah di atas kertas lebih dari cukup untuk meluluhlantakkan duniaku dalam sekejap. Terlalu cukup untuk menjelaskan seberapa tidak berguna eksistensi kehadiranku di kehidupan ini. Hanya sampah. Teronggok tanpa guna.

Sekelebat wajah menghampiriku. Senyum ikhlasnya terus merongrong rasa bersalahku saat itu. Membuat berbagai pertanyaan berlarian di otakku. Mengapa dari sekian ratus pembunuhan anak oleh ibunya, bukan aku saja yang menjadi salah satu korban? Mengapa dari angka aborsi yang terus meningkat tiap tahunnya, bukan aku saja yang harus hancur bersama luruhan darah? Mengapa saat dulu ketika bayi perempuan menjadi aib, aku tidak dilahirkan saja pada zaman itu? Mengapa Tuhan justru meniupkan ruhku ke dalam rahim yang memang menginginkanku? Apakah dunia memang setidak-adil itu?

Aku limbung. Pikiranku kacau.

Orang-orang di sekitarku bagai lupa status mereka sebagai makhluk paling sempurna yang pernah Tuhan ciptakan. Entah karena sudah bosan memiliki akal, atau memang lebih nyaman bersikap seperti hewan. Semua tak dapat dibedakan. Seluruhnya berteriak marah penuh tuntutan, berusaha memperoleh perhatian. Mereka saling berdesakan. tanpa mau tahu bahwa oksigen sudah menipis karena dihabiskan. Yang mereka pedulikan hanyalah dapat menyalurkan amarah tak berbendung kepada apa dan siapa saja yang patut disalahkan. Dari tempatku terjepit, dapat kulihat pria-pria berbadan tegap dengan seragam penambah wibawa tampak mengambil ancang-ancang, bersiap dengan segala kemungkinan.

Tubuhku sendiri terlempar ke kanan, untuk kemudian terbanting ke kiri. Jirigen minyak yang sudah terisi penuh kupeluk erat. Hanya ini yang menjadi satu-satunya alasanku untuk tetap bertahan. Setidaknya, aku pernah berguna untuk orang yang kusayang.

Aku limbung. Pikiranku kacau.

Di tengah hiruk pikuk, pikiranku justru kembali melayang. Ketika untuk pertama kalinya, aku melihat tangisan ibu, dan aku sebagai pemicunya. Dengan lancang dan bagai tak pernah diajari tentang tata krama, aku menunjukkan sepatuku yang sobek. Lantas berkata bahwa Bu Guru sudah menegurku berkali-kali karena hal itu. Sambil menepuk-nepuk punggung Lian yang pulas di pangkuannya, ibu tersenyum tipis. Menyabarkanku dan menyuruh untuk cepat tidur. Namun kemudian, ketika panggilan alam membangunkanku di tengah malam, kudapati ibu bercumbu dengan sajadah di sudut ruangan. Pundaknya berguncang hebat, terlalu rapuh untuk menanggung beban dari separuh jiwanya yang telah pergi beberapa tahun silam. Demi melihat itu, aku terenyak. Hanya sampah yang membuat penyimpan surga di telapak kakinya menangis.

Aku limbung. Pikiranku kacau.

Butiran debu membumbung semakin tinggi, mengepung amukan masyarakat yang lepas kendali. Beberapa bahkan mulai berani ke jalanan yang padat. membuat lalu lintas semakin merayap. Bunyi klakson saling membentak nyaring, berdebat soal siapa yang urusannya lebih penting dan harus diutamakan. Beberapa pengemis memberanikan diri untuk tetap berlalu lalang, mengetuk kaca-kaca mobil yang tertutup angkuh, berusaha melupakan fakta bahwa nyawa mereka sedang terancam di tangan massa yang mengamuk. Metropolitan di tengah gejolaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − nine =

X
%d bloggers like this: