OBAT DUKA CITA DAN KEGELISAHAN

ARROHMAH.CO.ID  – Jika diperturutkan, sebenarnya segala sesuatu bisa saja menjadi sumber dukacita dan kegelisahan. Manusia bisa dicekam kecemasan atas hal-hal yang ia miliki, bahkan yang tidak ia miliki. Lihatlah, orang berduit mengkhawatirkan aset-asetnya : takut dicuri, ditipu, berkurang, habis, rusak, tidak berkembang, atau tertimpa bencana alam.

Tetapi, orang miskin pun bisa mengkhawatirkan ketidakpunyaannya itu. Punya uang bingung, tidak punya pun bingung. Sudah menikah cemas, belum pun cemas. Punya anak khawatir, tidak punya pun khawatir. Berparas cantik resah, berparas buruk pun resah. Belum sekolah takut tidak bisa masuk; sudah sekolah takut tidak lulus ; sudah lulus takut tidak bisa kerja; sudah kerja takut dipecat . Demikianlah seterusnya, daftar semacam ini dapat kita perpanjang lagi, sampai nyaris tidak ada perkara yang terhindar darinya. 

Oleh karenanya, Allah menyebut manusia sebagai makhluk yang mudah mengeluh, cepat putus asa, dan pelit. Allah berfirman, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila ditimpa kesusahan ia mudah putus asa. Dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Qs. al-Ma’arij: 19-21).

Akan tetapi, pada saat bersamaan, Allah menunjukkan resep-resep jitu menanggulanginya. Karena Dia yang menciptakan manusia, maka Dia pasti lebih tahu bagaimana memperlakukan ciptaan-Nya. Pada ayat 22-23, Allah melanjutkan firman-Nya,“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Yang mereka itu kontinyu mengerjakan shalatnya.”

Jika kalimat ini dibalik, maka sesungguhnya segenap dukacita dan kegelisahan yang melanda hati manusia adalah akibat buruknya ibadah. Ketika shalat seseorang sudah tidak baik, ia telah melepas tali ketergantungannya kepada Allah.

Pada saat itulah syetan menguasai hatinya, dan ia bebas memainkannya kesana-kemari. Semakin lama semakin menggelisahkan, hingga akhirnya ia terjerat keputusasaan, tanpa seorang pun penolong. Qatadah berkata, “Sesungguhnya amal shalih itu mengangkat (derajat) pemiliknya pada saat dia kuat, dan tatkala dia terjatuh maka dia mendapati tempat bersandar.”

Pada ayat selanjutnya, Allah berfirman, “Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)” (ayat 24-25).

Artinya, kesediaan untuk berbagi, membantu sesama dan memiliki arti bagi orang banyak adalah sumber ketentraman jiwa. Kaidah ini jelas berseberangan dengan cara berpikir kaum materialis-kapitalis, bahwa kebahagiaan itu diraih dengan menumpuk harta sebanyak mungkin dan mempergunakannya untuk mengejar segenap kenikmatan pribadi. Maka, berbagilah dan Allah akan membahagiakan Anda!

Allah menambahkan resep lainnya, “Dan orang-orang yang mempercayai Hari Pembalasan; Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya; Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya)” (ayat 26-28).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen − six =

X
%d blogger menyukai ini: