LIPUTAN KHUSUS: MENGHAPUS STIGMA BURUK PONPES PUTRI

Ar-Rohmah Islamic Boarding School Menjaga santri dengan baik. Sebab ajaran yang diberikan adalah mendahulukan adab sebelum ilmu

Malang, Radius – Berbagai kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan Pondok Pesantren akhir-akhir ini, bisa mencoreng nama baik sekolah pendidikan agama Islam tersebut. Bagaimana sikap pondok pesantren “melawan” stigma itu?

Salah satu kasus terjadi pada Herry Wirawan, pria berkedok sebagai guru pesantren, telah melakukan pelecehan seksual kepada anak didiknya. Hal ini terjadi sejak tahun 2016 dan baru terungkap pada Mei 2021. Selama kurang lebih lima tahun, Herry melakukan aksi bejatnya pada 13 santriwati pondok pesantren Tahfidz Madani di kawasan Antapani, Bandung, Jawa Barat.

Kasus ini gempar di publik sepekan lalu. Beredar informasi bahwa pondok pesantren miliknya ini memberikan ajaran menyimpang. Pertama, Herry merupakan pengelola dan guru tunggal yang mendoktrin anak didiknya agar lebih patuh kepada guru dibandingkan pada orang tua. Selain itu, jalinan komunikasi antara orang tua dan anak tidak diberikan akses secara bebas.

Belum lama setelah kasus Herry mencuat ke publik, terjadi lagi kasus pelecehan seksual di Kelurahan Kemiri, Muka Beji, Kota Depok. Kasus ini dilakukan oleh guru ngaji, yakni Ustad Muhammad Marin Surya pada 10 santri di bawah umur. Peristiwa ini yang membuat banyak orang tua khawatir dan ada juga yang mengurungkan niat mereka mendaftarkan anaknya ke pondok pesantren.

Salah satunya Pradia Indriani, adik bungsunya saat ini sedang menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Darul Huda, Mayak, Ponorogo, Jawa Timur. Perempuan asal Malang ini mengatakan bahwa sempat ada kekhawatiran tentang terjadinya pelecehan seksual, apalagi usia adiknya masih terbilang sangat muda. Tetapi hal itu bisa ditampik karena pondok pesantren dengan amanah memberikan kebebasan akses komunikasi kepada orang tua.

“Setiap minggu kita masih bisa komunikasi via telfon atau videocall dan sepertinya di tempat pondok pesantren adikku ini aman. Sejauh ini masih diberikan akses jenguk langsung meskipun waktunya terbatas di masa covid,” kata Pradia Kepada Radius.

Hal senada juga disampaikan oleh Ustad Fahmi Ahmad, M.M, Departemen Sumber Daya Manusia Ar-Rohmah Islamic Boarding School Malang. Dia menjelaskan bahwa di Ar-Rohmah sangat terbuka kepada wali santri dengan memberikan akses kunjungan dan melalui komunikasi telpon secara rutin. Selain itu, ada orientasi calon orang tua santri sebelum masuk pondok pesantren.

“Kalau di Ar-rohmah, ada orientasi orang tua. Jadi kami berkenalan langsung dengan orang tua. Ini pengasuhnya, yang ini gurunya, ini kepala sekolah dan wali kelasnya, kita terbuka dari awal seperti itu. Insya Allah sesuatu yang buruk tidak mungkin terjadi karena komunikasi terus dengan orang tua dan terbuka,” kata Ustadz Fahmi kepada Radius.

Dengan adanya berita mengenai pelecehan seksual yang marak belakangan ini terjadi di pondok pesantren, ustadz Fahmi mengatakan bahwa hingga saat ini tidak ada dampak yang signifikan mengenai kekhawatiran orang tua santri terhadap anaknya yang sedang menimba ilmu.

“Sejauh ini hanya ada dua orang tua yang menghubungi ke kami menanyakan kekhawatiran hal itu. Tetapi tidak spesifik, hanya sekedar tanya di pondok bagaimana ustad? Begitu,” ucap Ustad Fahmi.

Ia menambahkan, komunikasi yang dijalin lebih pada bentuk perhatian orang tua kepada anak. Mayoritas orang tua santri menanyakan bagaimana dengan perkembangan anak, ada permasalahan atau mungkin betah atau tidak betah di pondok.

Menurut Ustad Fahmi, Ar-Rohmah Islamic Boarding School ini tidak terpengaruh dengan informasi yang beredar. Sebab ajaran yang diberikan adalah mendahulukan adab sebelum ilmu. “Jadi adab diberikan sebelum memberikan ilmu, karena anak-anak sudah dibekali adab Insya Allah itu tidak akan terjadi,” paparnya.

Model pendidikan yang diajarkan di Ar-rohmah Islamic Boarding School berbasis tauhid, sehingga para santri diperkenalkan kepada para Rasulnya, kitabnya, baru mempelajari ilmu akademik.

“Sehingga orangtua tidak perlu khawatir soal itu, karena Islam kan mengajarkan kebenaran dan Islam ini agama yang lurus. Ibarat kitab, ini benar-benar dijaga, dan pembelajaran pun menerapkan hal itu,” terang Ustad Fahmi yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah SMA Ar-Rohmah, Dau.

Selain itu, bimbingan pengasuh saat memberikan pengajaran dan ilmu kepada santri terbilang apik. Pondok pesantren yang terletak di Jalan Raya Jambu No.1, Semanding, Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang ini memberikan rasa aman dan nyaman untuk terbuka terhadap wali asrama dan wali kelas.

Dengan ramah, Ustadz Fahmi membeberkan bahwa ajaran yang diberikan sesuai dengan tuntunan Allah SWT tidak akan terjadi kasus-kasus pelecehan seksual. Dia menilai kasus yang saat ini viral itu bisa terjadi karena salah pemikiran atau mindsetnya yang keliru.

“Karena model pesantrennya beda dengan kita ya. Kalau di Ar-Rohmah mengikuti Sunnah-sunnah yang ada , seperti santri pria dengan staf pengajar pria, begitupun sebaliknya santri perempuan dengan staf pengajar perempuan,” katanya.

Sistem pengelolaan juga berbeda. Dalam satu asrama diisi oleh delapan hingga sepuluh santri dengan masing-masing santri mendapatkan satu ranjang dengan bentuk ranjang tingkat atau ranjang susun. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir hal yang tidak diinginkan.

Ustad Fahmi pun memberikan wejangan kepada para orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya ke pondok pesantren agar tidak perlu khawatir berlebihan. Dia menghimbau untuk melakukan survey tempat pendidikan yang akan digunakan terlebih dahulu.

“Yang paling utama, Mereka para orang tua harus memastikan anaknya makan, mandi, tidur dan sekolah di mana, harus disurvei terlebih dahulu. Saya kira kalau sudah memastikan hal itu orang tua akan semakin tenang. Apalagi kalau sudah mengenal dengan lingkungan dan gurunya,” imbuh Ustad Fahmi.

Selama 17 tahun memberikan dedikasi untuk pendidikan para santri, saat ini Ar-Rohmah Islamic Boarding School memiliki 2.300 lebih santri aktif. Mereka berada di tiga kampus terpadu yakni Ar-Rohmah Putri IBS, Ar-Rohmah Putri IIBS, serta Ar-Rohmah Tahfizh.

Para staf Pengajar, Pemilik Yayasan dan Direksi, maupun Pembina Asrama tidak memiliki niatan lain kecuali sebuah harapan mewujudkan pendidikan Islam unggul dan kompetitif, sehingga melahirkan generasi yang siap memikul amanah Allah SWT. “Harapan itulah yang kita pikul, sehingga diawal kita sudah sampaikan kepada orang tua dan santri. Kami semua bekerjasama mewujudkan cita-cita yang mulia,” imbuhnya.

Reporter : shintya juliana putri

Editor : chusnun hadi

Berita Asli: https://www.getradius.id/news/95460-menghapus-stigma-buruk-ponpes-putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

19 − three =

X
%d blogger menyukai ini: