Agar Konsisten Beramal Shalih

Bila kita memperhatikan kehidupan orang-orang shalih, kita menjadi takjub dengan konsistensi mereka di jalan Allah. Kebajikan, ketaatan, kemuliaan, dan segala sifat indah seperti terpancar begitu saja dari relung jiwa mereka; yang kemudian terefleksikan melalui mata, lisan, tangan, kaki, dan seluruh entitas kepribadian mereka tanpa terkecuali. Kita pun sering bertanya-tanya: kok bisa? Bagaimana mereka melakukannya?

Peribahasa mengatakan: ada asap, ada api. Jadi, “api” apakah yang mengepulkan “asap” kemuliaan dari dalam diri mereka? Kita berharap dapat menguak sedikit rahasia ini, dan meraih manfaat dengan meneladaninya.


Di dalam Al-Qur’an, sebenarnya Allah telah mengisyaratkan rahasia di balik semangat mereka, dengan berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218).

Perasaan senada juga diabadikan oleh Allah dalam surah Al-Ma’idah ayat 83-84: “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui; seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi. Mengapa kami tidak mau beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih?”


Ayat-ayat ini menegaskan bahwa pengharapan kepada rahmat dan karunia Allah-lah yang mendorong seseorang konsisten di jalan-Nya. Pengharapan adalah bahan bakar bagi api iman, sehingga terus berkobar, menerangi, menghangatkan. Tanpa pengharapan, iman akan padam dan membeku sehingga mandul dan tidak menghasilkan amal shalih. Maka, wajar jika salah satu aspek terpenting dalam iman adalah ar-raja’ (pengharapan).

Bayangkanlah seseorang yang berlari 42 km dalam lomba marathon, atau menempuh ratusan kilometer dalam lomba balap sepeda. Mengapa mereka terus maju, walau pun didera kelelahan yang amat sangat? Ya, karena mereka berharap bisa sampai ke garis finis dan mengambil hadiahnya, atau tujuan-tujuan lain. Jika saja tidak ada harapan apa pun di balik kerja kerasnya, padahal ia terus berjuang mati-matian, maka kita pantas mempertanyakan kewarasan akalnya.


Namun, semata-mata memiliki pengharapan kepada Allah tidak selalu mencukupi untuk melecut semangat beramal shalih. Fakta menunjukkan betapa banyaknya orang yang cita-citanya setinggi langit, namun usahanya tidak pantas dihargai. Mengapa mereka berani memelihara angan-angan hebat, dan pada saat bersamaan tidak malu untuk duduk berpangku tangan, enggan memeras keringat guna mewujudkannya? Ya, karena mereka tidak merasa takut terhadap akibat perbuatannya. Maka, Islam memperkenalkan konsep al-khauf (takut), sebagai penyeimbang dari ar-raja’ (pengharapan). Keduanya harus setimbang dalam diri seorang muslim, agar ia konsisten beramal shalih.

Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhir (ulama’ Tabi’in) bercerita: kami pernah mendatangi Yazid bin Shauhan, dan beliau berkata, “Wahai hamba-hamba Allah, bermurah hatilah dan berbuat baiklah; karena sesungguhnya sarana seorang hamba untuk sampai kepada Allah itu ada dua saja, yaitu takut dan harap.” (Riwayat al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab).


Abu ‘Ali Ahmad bin Muhammad ar-Rudzabari (w. 322 H) juga berkata, “Takut dan harap itu ibarat sepasang sayap burung. Jika keduanya sejajar, maka burung pun akan seimbang dan sempurnalah terbangnya. Jika salah satu dari keduanya berkurang, maka akan berkurang pulalah keseimbangan dan kesempurnaan terbangnya. Jika kedua-duanya lenyap, maka burung itu pasti terancam kematian. Oleh karenanya ada dikatakan: ‘seandainya takut dan harap dalam (hati) seorang mukmin itu ditimbang, niscara akan sejajar.” (Riwayat al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab).

Perasaan takut dan harap memang harus dijaga agar tetap seimbang. Sebab, jika jiwa seseorang cuma didominasi ketakutan, ia akan menjadi gila. Sebaliknya, jika hanya dipenuhi pengharapan, ia akan lalai dan sembrono. Hanya saja, apa yang seharusnya diharapkan dan ditakuti, agar semangat beramal shalih senantiasa terpelihara?


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya seorang mukmin mengetahui hukuman yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun yang mengharapkan surga-Nya. Dan seandainya seorang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun yang berputus asa dari surga-Nya.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah).

Jadi, jangan merasa aman dari ancaman hukuman dan siksa Allah yang tiada taranya, sebab kita bukan makhluk yang bersih dari kesalahan dan dosa. Allah berfirman: “Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” (QS. Al-Fajr: 25-26).

Akan tetapi, jangan segan untuk bernaung di bawah keteduhan rahmat-Nya yang lebih lapang dari seluruh jagad raya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah memiliki 100 rahmat. Satu bagian dibagikannya kepada makhluk-Nya. Dengan satu bagian itulah manusia, hewan liar, dan burung saling mengasihi.” (Riwayat Ahmad dari Abu Sa’id. Hadits shahih). Dalam riwayat lain, ada tambahan: “Sedangkan 99 bagian rahmat lainnya (disimpan) untuk Hari Kiamat nanti.” (Riwayat Muslim dari Salman al-Farisi, juga Abu Hurairah dengan redaksi berbeda). Semoga seimbangnya perasaan takut dan harap ini mampu mendorong kita beramal shalih, dan konsisten di dalamnya. Amin. Wallahu a’lam.

[*] Alimin Mukhtar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 − nine =

X
%d blogger menyukai ini: